Boneka & Cita-cita untuk Anak Panti Asuhan Tunas Harapan

Dua minggu sebelum acara charity untuk anak-anak Panti Asuhan Tunas Harapan di Yogyakarta 16 Agustus lalu, saya agak gugup membayangkan kalau harus saya sendiri yang ngemsi. Bisa sih, tapi kok kayaknya jadi self-centered ya kesannya, pikir saya. Lalu saya pun memutuskan menghubungi seorang sahabat SMA yang juga adalah rekan duet Wedding & Event Organizer saat masa 2004-2010, yaitu Okkie Putriani.

Dulu kami melabeli jasa kami dengan nama “Okkie & Friends,” dan biasa merancang dan brainstorm berdua untuk sebuah acara. Dalam setiap acara yang kami garap, Okkie berperan menjadi MC yang buat saya selalu bisa diandalkan di segala situasi. Okkie selalu bisa improvisasi bahkan di saat tersulit dan tak terduga sekalipun. Saya sudah barang tentu lebih suka di belakang layar… menjadi Stage Manager.

Beberapa tahun kemudian, karena saya sudah tidak bisa mendampingi Okkie lagi di dunia WO dan EO, Okkie pun mengganti labelnya menjadi “Okkie MC,” dan saat saya hubungi beberapa minggu lalu, Okkie menyampaikan progres yang luar biasa yaitu sebuah sekolah MC. Saya sangat bangga mendengarnya.

Kalau dulu, kami berdua akan rewo-rewo sendiri mengurusi sebuah acara, ya bikin konsep, ya bikin rundown, ya nyiapin properti, ya nyari kostum, lalu ngemsi dan ubyek sendiri di belakang panggung, saat H-1 acara kemarin, Okkie datang menemui saya dengan seorang asisten dan dua orang murid sekolah MC-nya, yaitu Winda Yolanda dan Dinta Sulthoni yang juga adalah seorang news anchor TVRI. Winda dan Dinta lah yang akhirnya berbaik hati ngemsi di depan anak-anak panti asuhan.

DSC_1204

Winda dan Dinta mulai menyapa anak-anak sejak kira-kira pukul 13.00 WIB, sambil diiringi musik oleh tiga sahabat saya dari Sexen USD (UKM Kesenian Universitas Sanata Dharma), yaitu Desy Nugroho, Yusak Nugroho dan Ajeng Purbo, dan seorang rekan Desy dari Komunitas Music for Everyone (MFE), yaitu Aryo.

Selain karena selalu bisa diandalkan dalam segala unexpected situations di atas panggung, saya mengajak Okkie juga karena dulu selain menangani acara wedding dan seminar, kami juga sering handle acara ulang tahun anak-anak balita hingga sekolah dasar yang budget-nya sama atau lebih meriah ketimbang acara ulang tahun sweet seventeen atau bahkan wedding. Hahaha…

Kalau harus saya sebutkan siapa mastermind di balik acara charity ini adalah Desy dan Okkie. Saya menyodorkan rencana mentah pada Desy, dan Desy lah yang mewujudkan rencana itu ke dalam bentuk teknis dan detail. Desy dan Okkie adalah dua orang yang membantu saya mentransformasi misi dan visi (harapan dan outcome seperti apa yang saya bayangkan terekam di benak anak-anak panti asuhan) menjadi applied atau practical series of events. 

Menyuguhkan sesuatu kepada audiens tipe apapun, dengan latar belakang apapun, selalu membutuhkan strategi penyampaian yang tepat supaya pesan kita bisa sampai dan melekat di benak mereka. Call to action pun harus jelas meski dikemas dalam bentuk apapun. Audiens anak-anak tentunya membutuhkan perhatian dan tantangan tersendiri, karena kita sebagai orang dewasa perlu “berbicara” dengan bahasa dan sudut pandang anak-anak.

Karena alasan inilah sejak awal saya kepikiran Desy untuk membantu saya mewujudkan acara ini, karena selain aktif di dunia musik indie, khususnya blues (bersama Jogja Blues Forum), di Yogyakarta, Desy juga pernah menjadi seorang kepala sekolah di sebuah sekolah musik di Yogyakarta, dan hingga hari ini, Desy aktif bersama MFE gencar mengajarkan musik pada anak-anak di sekolah-sekolah dasar dan menengah pertama di Yogyakarta. Tak sekedar hanya bisa sampai main alat musik, Desy dan MFE membuat anak-anak itu bisa menciptakan lagu. Sampai hari ini sudah ada puluhan lagu yang mereka ciptakan.

Saat menggarap acara ini, Desy dan saya berpikir tak hanya ingin memberi anak-anak panti asuhan bantuan dalam bentuk fisik, namun juga dukungan imaterial, dan terlebih sebuah pesan yang semoga bisa memotivasi dan mereka ingat sampai dewasa. Karena kami sadar bahwa saat kami kecil, cita-cita dan image idol atau figur panutan punya peran penting bagi seberapa besar kami ingin menjadi seperti yang diharapkan oleh orang-orang di sekitar kami, maka kami pun memutuskan ingin bercerita tentang apa cita-cita kami waktu kecil dan apa profesi kami sekarang.

Saat perkenalan, Winda dan Dinta menanyai nama ke-30 anak panti tersebut dan apa cita-cita mereka. Kebanyakan dari mereka ingin menjadi tentara. Setelah itu, saya dan sahabat-sahabat saya yang hadir maju ke depan, memperkenalkan nama kami, menceritakan apa cita-cita kami waktu kecil dan mengapa waktu itu kami memilih cita-cita itu, lalu apa profesi kami saat ini, bagaimana kami bisa sampai di sana, dan apa yang kami lakukan sehari-hari dalam profesi tersebut. Kami juga ingin memberi wacana pada anak-anak itu bahwa cita-cita bisa beragam, apalagi di era digital dan internet seperti sekarang. Kebetulan dari semua yang hadir, kami mendapatkan ragam profesi, seperti dokter hewan, dokter umum, karyawan bank, musisi, fotografer, wiraswasta, manajer hotel, MC, penggiat musik, penggiat otomotif, event organizer, arsitek, game developer, ibu rumah tangga, penulis, dan lain-lain.

DSC_1220

Setelah perkenalan, kami pun mengadakan games dan kuis yang masih berhubungan dengan cita-cita. Setelahnya baru sesi tiup lilin dan potong kue, kemudian simbolisasi penyerahan donasi, yaitu Leona memberikan sebuah boneka kepada Deri, salah satu anak panti. Kami memang tidak ingin terlalu menitikberatkan acara ini pada seremonial ulang tahun, namun lebih ingin merayakan sebuah kebahagiaan dan rasa syukur bersama anak-anak yang mungkin tidak seberuntung kita atau anak-anak kita.

DSC_1388Sebuah misi untuk Leona yang sudah berulang-ulang kami sampaikan padanya jauh-jauh hari sebelum acara ini adalah bahwa ulang tahun tidak selalu dia mendapat kado, tapi juga memberi kado. Meski sampai beberapa hari sebelum ulang tahun dia menyebutkan ingin sepatu roda, pada akhirnya Leona dengan bangga mengatakan, “Aku ulang tahun ga dapet kado lho.” Saat tanggal ulang tahunnya pun kami hanya membawakan sebuah cake ulang tahun ke sekolah, supaya dia bisa tetap melakukan ritual lagu “Selamat Ulang Tahun” dan tiup lilin, tanpa ada perayaan mewah seperti teman-temannya. Kami ingin supaya Leona tetap merasa spesial di hari ulang tahunnya namun tidak berlebihan. Malamnya saat hari itu, Leona mengatakan, “Mama, tadi aku bilang ke temen-temen, aku ulang tahun ga mau kado.” Kemudian saya jawab, “Really? Mama is sooo proud of you!” Sambil memeluk dan menciumnya.

Satu misi lain untuk Leona; kami mengatakan padanya bahwa anak-anak di panti tidak punya mama-papa. “Jadi tidak ada yang membacakan buku cerita sebelum tidur, tidak ada yang nyuapin kalau makan, tidak ada yang meluk kalau sakit atau takut, tidak ada yang mengantar-jemput sekolah,” kata saya menyebutkan hal-hal yang biasa mama-papanya lakukan untuknya. Saya lalu menambahkan, “Jadi Eon harus bersyukur dan bilang terima kasih sama Tuhan karena punya mama-papa.”

Meski tidak sempurna, kami ingin Leona tetap bersyukur. Sebagai orang tua, kami tidak ingin menutup-nutupi ketidaksempurnaan kami. Kami ingin mengatakan bahwa kami juga manusia biasa, sama sepertinya, yang bisa berbuat salah. Kami pun tidak segan menunjukkan bahwa kami mau meminta maaf padanya kalau kami berbuat salah. Kami tidak selalu benar, dan Leona boleh mengoreksi kami. Berbuat salah adalah manusiawi, namun berani mengatakan yang sejujurnya, meminta maaf dan apa yang kita lakukan setelahnya adalah yang terpenting. Kira-kira seperti itulah values yang ingin kami sampaikan padanya setiap hari.

Di akhir acara, anak-anak Panti Asuhan Tunas Harapan, yang diasuh oleh Bapak dan Ibu Mario, menyuguhkan sebuah gerak dan lagu, yang bagi kami sangat bermakna. Hari itu… benar-benar membuat kami bahagia.

Acara yang akrab dan menyenangkan ini berakhir kira-kira pukul 14.30 WIB, dan tidak akan mungkin terselenggara tanpa bantuan dan dukungan keluarga dan sahabat-sahabat kami.

DSC_1440

Secara khusus kami ingin menyampaikan terima kasih kepada sahabat-sahabat yang telah menyumbangkan waktu, tenaga dan talentanya:

Juga kepada semua sahabat yang telah menyisihkan sebagian dari miliknya untuk didonasikan:

Untuk semua anak yang sudah memberikan barang kesukaannya… We are so proud of you. We know it’s not easy to give away the dolls that you’re talking with and hug every night, the toys that you’re playing with your friends in the evening, and the books that we read for you at night, but we, parents, promise that God will give you more and more happiness and blessings in your life.

Sekali lagi terima kasih kepada keluarga dan sahabat. Hanya doa yang bisa kami berikan untuk membalas kebaikan Anda. Semoga Tuhan selalu melindungi kita dan memberi kecukupan.

Semoga acara ini bisa kita selenggarakan lagi tahun depan dengan lebih dalam dan berwarna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s