Disleksia, Aqil Prabowo Tak Berhenti Berkarya

Kemarin, Aqil Prabowo, yang tahun ini berusia sebelas tahun, mengajak saya melihat koleksi lukisannya di rumahnya. Saya yang memang tidak punya bakat menggambar sama sekali, sudah tentu takjub dengan hasil karyanya yang ternyata sudah begitu banyak dikerjakannya di berbagai media lukis, seperti kertas, kanvas, pakaian, hingga sepatu dan mug.

Ibunda Aqil, Amalia Prabowo, mendapati bahwa sejak usia tujuh tahun, putra pertamanya agak tertinggal dari teman-teman seusianya dalam hal membaca, berhitung dan konsentrasi. “Saat itu Aqil sekolah di sekolah biasa. Suatu hari gurunya bilang kalau dia menyerah. Saya lalu drop dan denial.” Bangkit dari kesedihannya, sang ibu mulai mempelajari segala hal tentang disleksia dan menemui tak kurang dari 20 psikolog dan psikiater untuk menemukan yang paling cocok.

“Saya akhirnya ketemu sama seorang psikolog yang agak ‘keras.’ Ibu-ibu yang merekomendasikan ke saya bilang kalau saya ga ‘tahan banting,’ saya ga akan tahan. Dan benar saja, dari lima ibu yang dites, cuma dua yang lolos,” kata bu Amalia menjelaskan masa awal pertemuannya dengan sang psikolog. Ketika saya bertanya tes apa yang dimaksud, bu Amalia mengatakan bahwa seorang ibu dengan anak berkebutuhan khusus pasti awalnya mengalami fase down dan denial. “Kalau kita terus deny dan keras kepala, psikolognya angkat tangan,” katanya. Mungkin ini praktek dari teori “cuma kita yang bisa menolong diri kita sendiri, orang lain adalah sarana,” juga “God helps those who help themselves.”

Titik balik bu Amalia adalah saat beliau duduk di dalam taksi, dan bapak taksi berkata, “Ibu tuh kurang apa sih? Banyak orang di luar itu yang susah makan, susah semua-semuanya. Ibu masih bisa duduk di sini, kena AC, masih bisa bayar saya pula.” Kata-kata bapak taksi yang sederhana ini mampu mengubah persepsi bu Amalia dan memutuskan berjuang bersama putranya.

“Satu hal yang kadang salah kita pahami soal menjadi seorang ibu, kadang kita berpikir kalau kita ada atau hidup untuk anak-anak kita. Padahal yang bener itu; anak-anak ada untuk kita. Mereka hidup untuk kita,” katanya.

Dari sini, bu Amalia mengeksplorasi kesukaan Aqil, mencoba hobi dan bakatnya satu-persatu, dari badminton, piano, hingga akhirnya seni menggambar. Secara luar biasa, bakat Aqil melejit, dan bahkan menjadi berkat dan rejeki. “Gambar pertamaku udah laku lama banget,” kata Aqil. Ketika saya tanya laku berapa, dia menjawab sekitar dua juta rupiah.

Tak hanya itu, Aqil dan sang ibu pun sering membagikan kisah dan pengetahuannya pada ibu-ibu dan anak-anak lain. “Awalnya cuma soal disleksia, tapi lama-lama soal parenting juga,” kata sang ibunda.

Seperti layaknya anak-anak seusianya, Aqil adalah anak yang ceria. Dia pun suka jahil ke adiknya, Satria, yang saat ini berusia delapan tahun, yang sangat suka bercerita.

Meski terlambat membaca dan berhitung, saya kagum dengan kecerdasan Aqil dalam menjelaskan gambarnya, juga kemampuannya berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Sambil melihat gambar terbarunya yang (sepertinya) belum selesai, saya bertanya, “Which one among these animals is the first one you drew?” Dengan fasih, dia menjawab, “Um… this one,” sambil menunjuk gambar gurita. “Why?” lanjut saya. “Um… I don’t know,” jawabnya. Memang kata ‘why’ kadang terlalu membingungkan untuk anak-anak, hahaha…

Senang rasanya bertemu semangat berkarya yang begitu besar, terlebih dalam keterbatasan. Bagaimana kita mengubah keterbatasan menjadi motor untuk hidup dan berkarya, saya rasa akan membuat kita kreatif dan tangguh. Sebaliknya, kalau kita hanya mengeluh dan membuat alasan, mungkin kita akan menutup banyak pintu dan membuang banyak value. Down dan denial adalah bagian menjadi manusia, tidak perlu malu. Namun jangan lupa membuka diri dan bangkit, mengerjakan PR, lalu merencanakan kembali. Semua proses ini akan membuat kita belajar, dan semoga berguna tak hanya bagi kita, tapi juga keluarga, teman, dan semua orang yang kita cintai dan temui.

Selamat berkarya…

 

Beberapa pemberitaan tentang Aqil:
Aqil Prabowo, Peserta Termuda 50 YWN 2015
Disleksia Mengantarnya Jadi Pelukis Kreatif
Amalia Prabowo, Mengubah Disleksia Menjadi Berkah

Advertisements

One thought on “Disleksia, Aqil Prabowo Tak Berhenti Berkarya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s