Gagal Snorkeling di Samalona

Ketika memutuskan akan ke Pulau Samalona, aku sudah membayangkan snorkeling. Mungkin aku pergi di saat yang tidak tepat, yaitu kala musim hujan, atau entah karena pulau ini terlalu dekat dengan kota (menyeberang dari Losari hanya 30 menit dengan perahu mesin) sehingga airnya keruh, sehingga kami tidak dapat menikmati terumbu karang seperti yang kami lihat di foto-foto hasil pencarian Google.

Mungkin kami perlu riset lebih komprehensif sebelum berangkat dengan tujuan snorkeling, seperti kapan saat yang tepat dan sebagainya.

Kami berangkat dari Losari pukul 7.00 pagi, menyewa perahu mesin dengan tarif Rp 350.000 seharian.

Dari kejauhan, pulau kecil ini terlihat sangat cantik, dan pagi itu pun kami dianugerahi langit biru nan cerah…

Sesampainya di sana, tanpa babibu kami segera menyewa snorkel dan water shoes, satu set tarifnya Rp 50.000 (plus pelampung).

Terakhir kami snorkeling di Wakatobi, di pinggir pantai pun kami mendapat pemandangan bawah laut yang luar biasa. Maka hari itu di Samalona, kami memulainya dari pinggir pantai. Sayang sekali, kami tidak melihat apa-apa, hanya pasir dan air keruh, dan terlebih lagi, kami kesulitan berenang mendekati pantai karena ombak kuat menyeret kami ke sisi kiri menjauhi pulau.

Kemudian, kami pun berinisiatif mengajak bapak si empunya perahu untuk mengantar kami ke tengah laut menjauhi pulau. Di dua titik yang berbeda pun kami tidak melihat sesuatu yang spesial, hanya karang yang sudah mati, yang agak sulit dilihat karena air yang keruh. Ikan atau biota laut lain juga tak terlihat.

Akhirnya, kami memutuskan kembali ke pulau dan mengurungkan niat snorkeling. Kami akhirnya berusaha menikmati pulau itu dengan cara yang lain, yaitu berjalan mengitari pulau, karena sepertinya cukup kecil untuk dihabiskan dalam 30 menit.

Berjalan searah jarum jam dari tempat kami melabuhkan perahu, kami menemukan sederet beton yang jadi spot asik berfoto-foto.

Aku pun berusaha melihat pulau dan keindahan itu secara parsial, menikmati apa yang ada satu-persatu, bukan secara keseluruhan.

Berjalan lagi menyusuri garis pantai, kami menemukan spot yang terlihat asik untuk berenang dan bermain pasir karena pasir di sisi lainnya agak lebih kasar, bercampur karang-karang kecil yang terasa sakit di kaki (sebaiknya memakai water shoes saat berjalan mengitari pulau). Karena airnya terlihat sedikit lebih jernih, kami tergoda untuk berenang dan bermain pasir di spot ini.

Garis pantai yang indah ini mengitari pemukiman penduduk yang hanya terdiri dari tujuh kepala keluarga. Di antara bangunan-bangunan kayu itu, salah satunya tampak seperti mini market yang menjual bir, snack, snorkel, pelampung dan lain-lain.

Bagian tengah pulau ini sangat rindang, benar-benar membuatku ingin tidur siang 😛

Sekembalinya kami di tempat singgah yang pertama, kami memesan ikan dan cumi sebagai hidangan makan siang. Ikan kecil-kecil enam ekor dan satu cumi berukuran sedang dihargai Rp 290.000. Nasi untuk empat orang, sambal dan sayur dibayar terpisah (dari ikan dan cumi), yaitu sebesar Rp 100.000. Total makan untuk empat orang hampir Rp 400.000; terasa cukup mahal untuk seafood yang dimasak sederhana, apalagi di sebuah kota pelabuhan dengan hasil laut berlimpah. Seorang rekan mengatakan seharusnya kami membeli ikan di pasar sebelum menyeberang dari Losari, dan di Samalona kita tinggal minta tolong dimasakkan.

Setelah kenyang, kami lalu mandi dan berencana pulang, namun di kejauhan kami lihat awan mulai gelap dan sepertinya sudah hujan di area itu. Bapak empunya perahu mengatakan bahwa kami harus menunggu beberapa saat untuk melihat perkembangan cuaca. Jika memburuk, kami perlu menunda menyeberang.

Beberapa menit kemudian, kira-kira pukul 15.00 WITA, awan di atas kami mulai gelap, dan hujan turun rintik-rintik.

Setelah menunggu beberapa saat, hujan tidak semakin lebat, dan kami pun diperbolehkan menyeberang menembus hujan. Meski hujan tidak terlalu lebat, ombak tetap membuat perahu kecil kami berayun ke kiri dan ke kanan. Dari yang awalnya agak was-was, lama-lama saya pun mengantuk, terlena oleh alunan ombak dan belaian angin.

Meski gagal snorkeling, kami tidak menyesal mengunjungi Samalona.

Total pengeluaran kami adalah Rp 1.140.000, dibagi 4 orang, jadi per orang Rp 285.000.

Selain sewa perahu Rp 350.000 dan seafood Rp 290.000, berikut pengeluaran selama di pulau:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s