Terminal Terboyo dan Pintu Kereta Setinggi Muka

Bulan Mei lalu, banyak tanggal merah loncat-loncat. Rabu ke-2, tanggal 14, kebetulan aku dapat tugas ke Semarang untuk mengerjakan kisah-kisah inspiratif di sana. Karena hari Kamisnya libur, aku berpikir ingin langsung ke Jogja dengan travel atau shuttle bus. Jadilah aku menelepon beberapa penyedia jasa transportasi tersebut. Hanya 4 jam pikirku, dan Jumatnya aku berencana work from home.

Setelah menelepon kesana-kemari, aku baru sadar kalau hari Kamis, tanggal 15, semua keluargaku berangkat ke Surabaya karena adikku akan merayakan usia kehamilannya di bulan ke tujuh. Menurut adat Jawa disebut ‘mitoni,’ yang berasal dari kata ‘pitu’ yang berarti ‘tujuh.’

Ngapain aku balik Jogja kalo ga ada orang di rumah, pikirku. Lalu aku memutuskan akan menuju Surabaya dari Semarang.

Seorang sahabat masa kuliah, @NduAmanda, yang memang bekerja di Semarang, membantuku memesankan tiket travel Semarang-Surabaya. Sayangnya jam keberangkatannya hanya satu kali sehari, yaitu jam 20.00. Lalu aku memutuskan ingin naik bus Ek* atas rekomendasi adikku, yang katanya sudah sering naik bus ini dari Semarang atau Jogja ke Surabaya. Bus ini berangkat setiap satu jam sekali, dan menyediakan keberangkatan paling malam jam 23.00. Aku ingin temu kangen dengan Rindu lebih lama, sehingga aku memutuskan naik bus ini.

Setelah meeting selesai sekitar pukul 16.00 dan sempat mengunjungi Kuil Sam Poo Kong, aku lalu menunggu Rindu di sebuah kafe, sambil mengerjakan laporan meeting.

Kuil Sam Poo Kong
Kuil Sam Poo Kong

Malamnya aku diantar Rindu dan pacarnya, Baghas, ke Terminal Terboyo. Mengapa Terboyo? Karena hanya dari sana saja bus itu berangkat.

Ketika meeting, rekan-rekan kantor Semarang terlihat ragu ketika aku mengatakan akan naik bus dari Terboyo dan berusaha meyakinkanku untuk naik kereta. Tapi, aku bersikeras. Selain harga tiketnya sepertiga dari harga tiket kereta, aku bisa turun di mana saja yang dekat dengan rumah adikku.

Driver kantor sempat bertanya, “Emang uda sering naik bus ke Surabaya, mba?” Aku jawab dengan gagah berani, “Belom pernah, pak. Pengen berpetualang nih.” Lalu sang bapak tertawa (mungkin sedang membandingkan penampilanku yang waktu itu memakai dress batik warna pastel dan flat shoes biru bunga-bunga, dengan gaya bicaraku yang sok jago mau berpetualang).

Ketika pertama kali aku bilang ke Rindu kalau aku mau naik bus dari Terboyo, dia memberi tahu Baghas, dan respon Baghas terasa agak janggal, tapi aku tak ambil pusing. Baghas waktu itu bilang, “Aku sih mau-mau aja nganterin, yang penting uda jelas aman. Soalnya cewe sendirian.” Dan waktu itu Rindu berpikir akan mengantarkanku sendiri dengan taksi kalau Baghas berhalangan atau tidak bersedia mengantar kami.

Lalu malamnya, berangkat lah kami bertiga ke Terboyo.

Terboyo ini menurutku letaknya agak jauh dari kota. Agak di ujung utara sepertinya, karena kami sempat melewati daerah yang nampak seperti pelabuhan atau daerah industri. Sebelumnya, kami juga melewati Kota Lama.

Beberapa meter sebelum sampai Terboyo, jalanan gelap, sangat gelap, dan bagiku mirip sarang preman di film-film action, atau tempat cewe-cewe penakut dikejar-kejar dan dibunuh psikopat. –> kebanyakan nonton thriller

Semakin ke dalam, suasana semakin menyeramkan (buatku), karena terminal ini seperti tidak terawat. Jalannya rusak, tidak ada lampu penerangan yang berarti, dan….. sepi #krik. Parahnya lagi, aku tidak melihat ada bus antar kota. Sejauh yang kami lihat, hanya ada bus dalam kota, seperti Kopaja, namun sudah tua dan berkarat. Entah berfungsi atau tidak. Aku dan Rindu mulai merinding, dan berkali-kali aku bilang, “Ga jadiii… Aku mau naik kereta ajaaa. Puter baliiik. Puter baliiik.” Tapi Baghas sepertinya penasaran, dan memutuskan untuk tetap masuk dan mencari tahu di mana bus Ek* berada. Dia lalu memarkir mobilnya di sebelah bus tua, dengan kondisi sekitar yang sangat gelap. Dia mendapat jawaban bahwa bus antar kota ada di sisi satunya.

Baghas lalu memutuskan untuk mengitari terminal yang sepertinya diset seperti sebuah alun-alun. Semakin ke dalam, jalanan semakin rusak. Bagian bawah mobil pun beberapa kali terantuk batu atau aspal yang tidak rata. Dan semakin ke dalam, tidak ada satu pun bus yang terlihat, malah truk-truk kontainer besar-besar dan beberapa supir yang beristirahat. Aku semakin parno dan berkali-kali bilang, “Puter balik. Puter balik.”

Akhirnya, karena Baghas (mungkin) risih mendengar kami berdua merengek-rengek minta puter balik, Baghas pun putar balik. Tapi sepertinya dia masih penasaran dan ingin menemukan bus Ek*. Kami mengitari sisi terminal yang lain lagi, sampai tak sengaja menemukan tulisan ‘Terminal Terboyo’ terpampang besar di sebuah spot yang terlihat seperti pintu utama. Baghas pun memarkir mobil dan bertanya pada dua orang bapak-bapak yang sedang duduk-duduk. Mereka mengatakan bahwa pangkalan bus Ek* ada di dalam, masuk ke kiri mentok, lalu ke kanan.

Setelah mengikuti arahan bapak-bapak tadi, akhirnya kami menemukan bus yang kami cari. Namun… sepertinya aku adalah penumpang pertama. Selain suasana terminal yang remang-remang dan terasa tak bersahabat, supir dan kernetnya berwajah keras seperti pada umumnya, bertanya berapa orang yang akan naik, dan membujuk dengan menjelaskan fasilitas-fasilitas yang akan didapatkan penumpang.

Aku memberi kode dan berbisik pada Rindu dan Baghas bahwa aku mau naik kereta saja, karena aku sudah terlalu parno. Lalu Baghas mengatakan bahwa kami mau makan dulu, mungkin supaya tidak dipaksa naik. Kami pun akhirnya meninggalkan terminal.

Bagaimana jadinya kalau tadi hanya aku dan Rindu berdua saja pergi ke Terboyo jam 10 malam? :))

Aku kira, petualanganku berakhir di situ.

Kami melanjutkan perjalanan, menuju stasiun terdekat. Ketika kami bermaksud mengantri di loket, orang-orang yang tadinya duduk, tiba-tiba berdiri membentuk barisan untuk antri. Serentak aku dan Rindu ikut berbaris. Beberapa menit berlalu, tapi tak satu pun orang maju ke loket. Padahal ada dua loket kosong, dan aku sempat berpikir, apa yang dilakukan kedua petugas itu sehingga para pengantri tidak segera dipanggil. Anehnya lagi, stasiun memiliki fasilitas mesin pencetak nomor antrian, tapi tak satu pun dari orang-orang itu mengambil nomor antrian. Sebenarnya aku ingin keluar barisan dan mengambil nomor antrian, tapi takut tidak bisa masuk ke antrian lagi, mengingat orang-orang ini agak terlalu bersemangat. Buktinya, bapak di belakangku tak segan-segan mendorongku dan mendesak-desakku maju.

Akhirnya aku dan Rindu pun terjebak di antrian panjang dengan beribu pertanyaan.

Tanpa sepengetahuan kami, Baghas sudah mengambil nomor antrian. Dia mulai curiga ada yang aneh ketika nomor antrian dua ribu sekian mulai dipanggil, tapi tak satu orang pun maju. Anehnya lagi, wajah petugas loket seperti menunggu-nunggu orang dengan nomor antrian tersebut menuju loket, tapi tak satu orang pun menghampiri. Akhirnya Baghas (yang satu-satunya di antara kami tidak terjebak di barisan antrian) memutuskan untuk bertanya pada petugas. Setelah menunggu seorang petugas yang sangat sibuk menjawab pertanyaan beberapa orang, akhirnya Baghas terlihat berhasil mendapatkan jawaban, lalu mendatangiku dan menyuruhku maju ke loket. Masih bertanya-tanya, aku pun maju ke loket, dan langsung dilayani petugas. Aku garuk-garuk kepala (literally). Lalu orang-orang itu ngapain antri, pikirku. Setelah mendapatkan tiket untuk malam itu juga ke Surabaya, Baghas menjelaskan bahwa orang-orang itu antri untuk membeli tiket lebaran, yang baru akan dijual pukul 00.00. Makanya mereka hanya berdiri diam di barisan, karena waktu bahkan belum menunjukkan pukul 23.00.

Setelah memegang tiket, aku pun merasa “menang.” Bagaimana tidak? Aku didorong-dorong dan didesak-desak orang-orang di belakangku, seakan-akan tidak ada space luas di belakang. Itu kan halaman luas sekali. Berhasil keluar dari antrian yang menyesakkan itu, rasanya aku ingin sekali menjulurkan lidahku dan memamerkan tiketku pada bapak yang berdiri di belakangku dan mendorong-dorongku.

Aku kira, petualanganku berakhir di situ.

Kami pun akhirnya menunggu kereta datang. Setelah terdengar suara petugas yang memberitahukan bahwa kereta sudah datang, aku pun berpisah dengan Rindu dan Baghas. Setelah cipika-cipiki, aku masuk ke peron, dan menunggu beberapa saat hingga kereta datang.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, kereta yang akan aku naiki tidak berhenti di rel paling pinggir. Malam itu, kereta Bangunkarta yang sepertinya mengawali perjalanan dari Bandung dan berakhir di Surabaya, berhenti di rel bagian tengah. Aku bingung, saking bingungnya aku hanya diam saja di peron, tengok kanan tengok kiri dan melongo.

Bagaimana tidak bingung? Pintu kereta tidak bertemu dengan lantai peron, sehingga tingginya setinggi mukaku. Orang-orang dari gerbong belakang turun dengan cara melompat. Lalu aku naiknya gimana?? Parahnya lagi, pintu gerbong satu sampai lima tertutup rapat karena tidak ada penumpang yang turun. Kebetulan aku dapat kursi di gerbong empat, dan aku berdiri persis di sebelah gerbong empat. Sejauh mata memandang, tak ada satu petugas pun yang terlihat. Aku bingung bagaimana harus naik dan takut ketinggalan kereta.

Beberapa saat aku masih terdiam dan takjub. Tak ada satu solusi pun yang terlintas di kepalaku. Masalahnya, aku membawa koper yang lumayan berat (kalau aku harus mengangkatnya setinggi mukaku), dan tak satu pintu pun terbuka. Tanpa koper pun, aku bingung bagaimana harus menaikkan badanku setinggi itu.

Harapan pun datang ketika ada seorang laki-laki membuka pintu gerbong lima untuk merokok. Dia tidak turun, hanya berdiri di bibir pintu. Aku beranikan diri berjalan ke arahnya, mengangkat koperku melewati kerikil-kerikil berukuran sedang khas rel kereta api.

Sesampainya di bawah kakinya (aku benar-benar ada di bawah kakinya), aku memberanikan diri bertanya. Karena aku sangat bingung, kalimat yang keluar dari mulutku pun klise, “Mas, ini naiknya gimana?” Dengan muka agak sedikit melas. Idealnya, harusnya aku minta tolong dengan sopan, seperti, “Mas, boleh minta tolong dibantuin naik?” Tapi karena aku sudah sangat lelah dan agak putus asa… #yasudahlah.

Akhirnya, mas-mas ini menjawab, “Ya uda, sini aku bantuin naik.” Dengan susah payah aku angkat koper sebisaku, lalu mas-mas tadi menariknya dari atas. Aku memberikan tas dan bantalku, lalu (dengan sok perkasa) memegang pegangan besi di kanan kiri pintu dan berusaha naik sendiri. Tapi, pijakan pintu kereta terlalu tinggi, sehingga aku tidak mungkin bisa naik sendiri. Tidak mungkin aku mengandalkan kekuatan otot tangan saja untuk mengangkat seluruh massa tubuh, karena aku tidak pernah melatihnya 😀

Daaan.. Mas-mas tadi memberikan bantuan pamungkas dengan menarikku dari atas. Beratku 55 kilogram, pasti lumayan berat untuk dia yang tidak terlalu besar. However, he did a grrreat job! Tidak ada lecet satu pun di badanku akibat jatuh dari ketinggian 1,25 meter, atau tergores pijakan pintu kereta, atau lebam kejedot pintu :p

Setelah mengucapkan terima kasih, aku pun berhasil masuk gerbong empat dan duduk di kursiku. Saat itulah aku bersyukur, sekaligus berpikir, “Oh, God.. Finally. Thank you. What’s next?”

Seandainya saja dari awal aku mendengarkan saran rekan-rekan kantor Semarang untuk naik kereta, mungkin hariku tak akan sebegitunya. Yah, paling gak sekarang aku jadi punya cerita buat bapak driver bahwa aku sudah berpetualang :((

Terima kasih, Rindu dan Baghas. Tanpa kalian, mungkin aku sudah “terboyo” (ter + buaya) dan entah nyampe Surabaya ato engga. Hahaha..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s