Cerita di Balik Boneka Doraemon dan Jam Tangan Eon

Beberapa minggu lalu, aku mengajak Eon (yang sebentar lagi akan berusia 3 tahun) ke salah satu minimarket dekat rumah. Sebenarnya aku hanya ingin membeli gunting kuku, tapi saat kami masuk ke minimarket, Eon melihat boneka-boneka Doraemon dipajang berjajar di etalase, dari yang ukurannya paling kecil sampai yang paling besar.

Ketika melihat boneka-boneka Doraemon itu, Eon mulai merengek, “Mama, Emon.”

Sebenarnya aku bisa saja langsung membelikannya Emon yang dia mau, tapi aku ingin mengajarkannya menunda keinginan. Lalu aku menjawab, “Nanti ya sayang kalau mama sudah punya uang.” Sebenarnya aku punya uang, dan sebenarnya aku ingin bilang nunggu gajian, tapi karena Eon belum mengerti konsep gajian, dan sudah mengerti bahwa untuk mendapatkan sesuatu di pusat perbelanjaan kita membutuhkan uang, jadilah aku menjawab seperti itu.

Eon menjawab iya, lalu kami pulang setelah aku membeli gunting kuku.

Itu kejadian siang hari. Sorenya, setelah mandi sore, Eon tiba-tiba bertanya padaku dengan muka polosnya, “Mama uda punya uang belom?” Langsung saja aku tertawa, karena mengingat bahwa yang sebenarnya ingin aku katakan adalah nunggu gajian, dan gajian tidak datang secepat itu. Dan setelah itu, tiap lima menit sekali, Eon merengek, “Mama, Emon.. Mama, Emon.”

Akhirnya, dari pada Emon kebawa mimpi, aku mengajaknya ke minimarket lagi dan memintanya memilih Emon yang dia mau. Sesuai dugaan, dia memilih Emon yang paling besar. Untungnya, waktu itu tanggal 27, yang berarti besoknya gajian :p

Akhir cerita, setelah ada Emon, Eon selalu makan lahap dan habis lebih banyak dari sebelum-sebelumnya. Emon memberi dia motivasi lebih, seakan-akan dia punya teman makan. Sampai-sampai dia sendiri yang inisiatif mau makan, “Makan mama. Makan sama Emon.” Lalu aku akan menyuapinya, sambil sesekali pura-pura menyuapi Emon.

Beberapa minggu setelahnya, Eon membuat kisah lucu yang lain lagi.

Background cerita, Eon sering ikut eyang utinya sembahyang rosario lingkungan, dan Eon nampaknya merekam dengan baik apa yang dilihatnya, juga secuil pemahaman tentang ujud doa.

Suatu sore, utinya pamit ke kami mau doa rosario lingkungan. Setelah utinya pergi, Eon lalu menata Emon, Itty (Hello Kitty) dan satu boneka lagi dengan posisi melingkar. Lalu dia mengambil rosario yang memang untuk dia, dan mulai berucap, “Talam Malia Bundah Allah….” Lalu menggumam tak jelas, karena mungkin baru itu yang berhasil dia hafal. Lalu mulai lagi, “Talam Malia Bundah Allah….” Dan menggumam lagi. Dan seterusnya.

Lalu tiba-tiba dia berbisik pada Emon, “Eon bitin teh duyu ya.” Lalu Eon ke dapur, mengambil nampan, meletakkan satu gelas dan piring plastik ke atasnya, lalu kembali ke Emon, dan meletakkan gelas dan piring itu untuk Emon. Lalu dia kembali ke dapur lagi, mengulang hal yang sama, lalu meletakkan gelas dan piring itu di depan Itty. Begitu juga untuk boneka selanjutnya.

Beberapa saat kemudian, utinya pulang, dan aku berkata, “Uti, tadi Eon abis rosario juga loh.” Utinya menjawab, “Oya? Eon bilang apa sama Jesus?” Ketika mamaku bertanya seperti itu, aku tidak punya prediksi jawaban yang akan keluar dari mulut Eon yang sedang senang belajar beragam vocabulary baru. Di luar dugaan, Eon menjawab, “Eon mintak jam.” Langsung saja kami tertawa.

Dari sini aku menemukan bahwa Eon sudah mengerti konsep ujud doa. Dan sebenarnya, kira-kira satu bulan terakhir, tiap kali dia melihat aku memasang jam tangan, Eon selalu bilang, “Mama, Eon mau jam.” Aku selalu menjawab, “Nanti ya, kalau Eon sudah bisa baca, mama beliin.” Dan Eon selalu menjawab ya. Aku antara bangga dan terharu karena ternyata Eon mengerti ketika aku mengatakan bahwa aku akan membelikannya jam tangan nanti kalau dia sudah bisa membaca. Dia bersabar menanti dibelikan jam, tidak merengek-rengek setiap lima menit sekali seperti saat dia ingin dibelikan Emon, dan tak kusangka dia memasukkan jam itu dalam doanya, atau entah bagaimana dia memahaminya :))

Ketika aku menceritakan ini ke adikku, dia tertawa dan berkata, “Iya, waktu kemarin Eon liat Ridwan pakai jam, Eon bilang, ‘O’om, Eon ga puna jam.'” OMG, how cute that was; the way she’s trying to tell everyone that she wants to wear the same thing the adults do.

Sorenya, setelah dia menyampaikan bahwa harapan dalam doa rosarionya adalah jam tangan, aku mengajaknya membeli jam. Pastinya jam mainan, karena toh dia belum bisa baca angka, apalagi mengerti konsep waktu 24 jam sehari.

Dia sangat senang, dan selalu memakai jam tangannya setiap kali ingat. Dia memamerkannya pada orang-orang di sekitarnya, termasuk padaku, “Mama, Eon puna jam hand ya? Sama puna mama.” Lalu aku berkata padanya di akhir hari itu, “Eon jangan lupa rosario lagi ya, bilang terima kasih sama Jesus. Rosarionya jangan cuma kalau minta sesuatu. Kalau udah dikasi, harus rosario juga.” Lalu dia menjawab, “Iya, acih ya Jesus.”

Lesson learned:

1. Barang yang diinginkan anak kecil, bisa jadi semangat dan motivasi untuknya, dan membantunya berimajinasi.

2. Kalau anak kecil bikin rumah berantakan, mengambil barang-barang yang sebenarnya bukan mainan, jangan langsung dimarahi. Sejauh barang-barang tersebut tidak membahayakan keselamatannya, jadilah pengamat yang baik. Amati bagaimana dia imitate what they see in their daily, dan memperlakukan boneka-bonekanya sebagai teman bicara.

3. Dengan mengamati, kita jadi tau sampai mana perkembangan psikologis dan motorik anak. Melarang atau memarahi hanya akan membunuh imajinasi dan kreativitasnya, atau bahkan mungkin akan membunuh “dunianya.” Tapi jangan lengah, jauhkan mereka dari barang-barang berbahaya seperti pisau, barang pecah belah, stop kontak, dll. Taruh atau sembunyikan di tempat yang tak terjangkau olehnya.

4. Kalau kita mendapati anak melakukan atau mengatakan yang tidak seharusnya, langsung koreksi. Jangan lelah memberi pengertian, karena balita dan anak-anak belum memahami konsep sebab-akibat. Seorang sahabat yang mengambil studi Psikologi, @pulkeratih, yang juga adalah ibu baptis Eon, menjelaskan bahwa balita dan anak-anak merekam kata-kata orang dewasa (kalau aku boleh mengumpamakan) seperti perintah dalam coding. Kita memasukkan rumus, dan sistem/otak akan menjalankan rumus/perintah itu dalam otomatisasi. Namun, tak seperti coding yang akan membaca dan melakukan perintah dengan konsisten selama belum dihapus atau diubah, balita dan anak-anak akan terus mengulang hal yang sama meski sudah kita peringatkan. Jadi, rumus/perintah harus dengan rajin kita tanamkan dan kita ulang-ulang. Baru setelah SMP, anak akan recalls semua rumus/perintah itu dari masa kecilnya, dan mulai memahami hubungan sebab-akibat, seperti: kalau lari-lari bisa jatuh, minum es terlalu banyak bisa sakit, dll.

5. Pernah melihat orang tua yang meneriaki dan memarahi anaknya, namun sang anak tidak menurut, dan bahkan menirukan gaya orang tuanya marah-marah? Beware of what you do and say. Setiap hal akan ditiru oleh anak-anak. Tegas dan bijak tidak harus keras dan teriak-teriak. Memang awalnya susah jadi orang tua yang sabar. Tapi dengan berlatih, tidak ada yang tidak mungkin. Satu tips supaya apa yang kita katakan terekam baik di memori anak-anak: berlutut atau duduk lah sehingga mata kita tepat sama tinggi dengan matanya, lalu katakan maksud kita dengan lafal yang jelas tiap suku katanya. Hal ini untuk menunjukkan esensi, “Dear, I mean it.” Jadi, tidak perlu teriak-teriak atau marah-marah. Itu tak akan membantu kita memperbaiki keadaan.

6. Jadilah orang dewasa yang konsisten, dalam artian: apa yang kita katakan sama dengan apa yang kita lakukan. Sekali anak melihat bahwa kita tidak konsisten, dia akan dengan kritis merekam dalam memorinya. Tak jarang mereka langsung mengungkapkan kritik tersebut.

7. Last but not least, child’s development begins in womb. So, talk to them, tell them stories, sing for them, pray with them, show them what love is, be happy. A happy mother makes a happy child. Be positive, do and say everything with care and love, not anger.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s