Sampai Jumpa di Ujung Hari, Kekasihku

Sang Malam tak pernah berhenti menanyaiku, “Dapatkah aku memilikimu?”

“Siapa kamu?” jawabku lagi dan lagi, dan kali itu dia menjelaskan, “Kamu tak mengenalku? Aku yang selalu menemanimu saat matamu tertutup. Aku yang membangunkanmu saat aku tak mampu lagi terjaga. Aku juga yang memberimu keindahan saat dunia tak lagi terang.”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku masih sama, dapatkah aku memilikimu?”

“Tapi aku tak mengenalmu dan aku tak pernah memintamu melakukan apapun untukku. Jawaban apa yang kamu inginkan?”

Sang Malam diam sejenak dan berkata, “Ya, aku tau, bukan darimu semuanya berawal. Tapi akupun digerakkan oleh sesuatu yang jauh lebih besar dariku. Aku tak bisa mengendalikan diriku.”

“Mengapa seakan-akan kamu memintaku bertanggung jawab atas perbuatanmu?” kataku, dan aku semakin bingung dengan kata-katanya. Mengapa ada yang menggerakkannya dan mengapa dia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri? Aku tak mengenalnya, dan dia ingin memilikiku?

“Aku mencintaimu.. Aku ingin bersamamu. Bolehkah?” bisiknya padaku.

“Maaf, aku tak bisa. Aku tak mengenalmu dan belum pernah melihatmu. Tapi…”

“Tapi apa?”

Meski aku ragu, tapi kali itu aku ingin menjelaskannya. “Tapi aku bisa merasakanmu, meski aku belum pernah bertemu denganmu,” jawabku.

Lalu Sang Malam menjawab, “Taukah kamu, bahwa aku bisa melihatmu begitu indah? Aku sering memimpikanmu mengisi hari-hariku. Aku memujamu!”

Aku mulai mencoba mengingat-ingat apa yang aku rasakan, karena kata-katanya mulai mengusikku. Aku memang belum pernah bertemu dengannya, wajahnya pun aku tak tau seperti apa. Tapi bagaimana dia bisa melihatku dan memujaku? Aku mulai bimbang, karena aku memang bisa merasakannya, meski jauh. Tapi aku tau, aku tak bisa bersamanya.

“Aku tak mengenalmu dan karena itu aku tak bisa membiarkanmu memilikiku. Kurasa kita tak bisa bersama. Walau aku bisa merasakanmu ada, tapi kamu tak ada di sini. Kamu ada di sisi lain sepertinya, dan sekarang pun saat kita bercakap, aku tetap tak bisa melihatmu. Suaramu hanya ada di kepalaku,” kataku.

Terdengar desahan pilu dari Sang Malam, lalu dia melantunkan katanya, “Sudah kuduga aku akan sesedih ini setelah menyampaikan perasaanku. Aku tau kamu tak akan mengijinkanku memilikimu, karena kita belum pernah bertemu, dan mungkin kita memang tak akan pernah bisa bertemu. Taukah kamu, dari matamu, tergambar isi dunia yang menakjubkan. Dari senyummu, terbersit semua indah dunia. Dari nafasmu, terdengar desah keberanian hadapi dunia. Semua tentangmu buatku mampu menjalani hariku yang dingin dan gelap!”

Aku hanya diam, dan dia melanjutkan, “Sudahlah.. biar semua tetap seperti ini, karena sebenarnya aku bahagia dengan hanya menjadi bagian lain duniamu. Tapi, aku ingin meminta satu hal darimu.”

“Apa?” tanyaku.

“Ijinkan aku tuk selalu menjadi yang pertama yang menciummu di awal harimu, dan menjadi yang terakhir yang mengecupmu di akhir harimu.”

Seketika itu juga jantungku berdebar kencang, menyadari betapa besar dia menginginkanku. Serasa ingin kuhentikan waktu dan hariku di depan dan tinggal di situ bersamanya untuk mengenalnya. Jangankan melihatnya, membayangkan wajahnya pun aku tak bisa. Sekeras apapun aku mencobanya, tetap tak bisa. Mungkin benar katanya bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang mengendalikan segalanya. Aku hanya bisa berandai-andai tanpa bisa mengubah apapun.

Sambil menghela nafas panjang penuh kesedihan, aku menjawab, “Baiklah.. Jadilah apa yang kamu pinta. Maafkan aku tak bisa bersamamu. Tapi, aku akan menepati janjiku. Temui aku di sini di awal dan akhir hariku.”

“Terima kasih.. Itu cukup buatku. Kamu… satu-satunya bagian terindah kehidupan yang tak pernah bisa kumiliki. Sampai jumpa…” tiba-tiba katanya terhenti. “Aku tak tau namamu,” lanjutnya lirih. “Bagaimana aku harus memanggilmu nanti?”

Aku sedikit geli mendengarnya. Bahkan dia tak tau namaku. Tapi aku tak ingin menambah kesedihannya dan menjawab, “Panggil aku… Siang.”

Beberapa detik berlalu, dan tiba waktuku pergi, memulai hari di sisi dunia yang lain. Saat itu, kurasakan ciuman lembut di keningku, tanpa pernah tau seperti apa wajahnya.

“Sampai jumpa di ujung hari, kekasihku..” kudengar lirih suara itu, sambil berlalu.

Tulisan beberapa tahun lalu, kutemukan di antara tumpukan kertas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s